questioning almere

Sebuah kota bernama Almere menarik perhatian kami. Sejak direncanakan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1966, kota termuda di Belanda yang tergolong sangat cepat pertumbuhannya di Eropa ini kini berpenduduk 190.000 jiwa, serta akan diperluas lagi kapasitasnya untuk menampung 350.000 jiwa pada tahun 2030. Beberapa orang memandang bahwa reputasi kota Almere yang meningkat tajam ini turut dipengaruhi oleh peran beberapa arsitek dunia yang merancang masterplan dan mendirikan bangunan-bangunan ikonik yang atraktif di kota tersebut. Rem Koolhas dari OMA berkontribusi merancang pengembangan masterplan kawasan pusat kota Almere. Will Alsop—arsitek asal London—mendesain Almere Urban Entertainment Centre yang mencakup pusat perbelanjaan, music hall, hotel, serta fasilitas kafe dan restoran yang terintegrasi di pusat kota. Kazuyo Sejima dari SANAA menciptakan Almere Arts Centre. MVRDV berkesempatan merancang sebuah gedung perkantoran. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Fenomena di Almere ini menarik untuk dicermati dan dianalisis lebih dalam. Di bidang arsitektur, kita mengenal istilah populer yang disebut Bilbao Effect; sebuah fenomena dan fakta yang membuktikan bahwa Frank Gehry dan Guggenheim Museum-nya (starchitect dan bangunan ikoniknya) berhasil memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan kota Bilbao. Akan tetapi dalam konteks kota Almere, kita perlu bertanya kembali seberapa jauh keterlibatan para arsitek bintang dan kehadiran bangunan-bangunan yang ikonik berimbas pada kota secara keseluruhan? Apakah kontribusi para arsitek dan arsitektur ikonik mampu memberikan dampak dan pengaruh signifikan terhadap kehidupan masyarakat di kota Almere?

Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, kami mewawancarai dua orang narasumber ahli untuk memberikan pandangannya tentang kota Almere, yakni Petra Brouwer—asisten profesor di University of Amsterdam yang telah banyak melakukan riset dan menelurkan publikasi tentang kota Almere—dan Michelle Provoost—seorang arsitek sekaligus sejarawan arsitektur yang tergabung dalam Crimson Architectural Historian serta cukup banyak mengetahui seluk beluk perkembangan kota-kota di Belanda, termasuk Almere.

Di abad ke-21 ini, Almere dikenal dengan reputasi internasional sebagai kota berarsitektur modern berkat transformasi dan peninggalan jejak bangunan ikonik beberapa arsitek ternama dunia. Menurut Petra Brouwer, kehadiran bangunan-bangunan ikonik yang didesain oleh starchitects itu penting, jika ingin mendapatkan atensi dunia internasional. Michelle Provoost juga turut menambahkan bahwa citra kota Almere—yang populer di tengah-tengah warga Belanda, namun tidak dikenal di mata dunia—memang perlu diperbaharui dengan menghadirkan arsitektur yang prestisius dan berkualitas. Hal itu akan meningkatkan kebanggaan dan rasa percaya diri dari kota, bahkan kini mampu memposisikan Almere pada peringkat ketiga kota yang berorientasi pada arsitektur di Belanda (setelah Rotterdam dan Amsterdam).

Namun kita perlu realistis, benarkah munculnya banyak bangunan ikonik karya starchitect merupakan sebuah fenomena baik yang mendatangkan dampak yang baik pula bagi kota Almere? Petra Brouwer secara pribadi menilai itu bukanlah fenomena yang baik, sebab itu bukan jawaban yang tepat untuk konteks kota Almere. Menciptakan landmark dan bangunan ikonik di Almere menurutnya tidak masuk akal, karena sejak awal Almere dirancang sebagai kota dengan tipologi low-rise. Pada mulanya, Almere memang didesain sebagai kota satelit (suburban) yang difungsikan untuk menampung penduduk Amsterdam dan Utrecht yang semakin padat. Hunian-hunian di Almere dirancang dalam bentuk single houses yang masing-masing memiliki taman/kebun tersendiri. Petra menegaskan bahwa kehadiran bangunan-bangunan ikonik selama ini tidak memengaruhi kehidupan dan perilaku masyarakat. Pusat kota di sore dan malam hari selalu sepi. Bahkan di siang hari pun tak terlalu ramai. Pasalnya, Almere adalah kota suburban, sehingga aktivitas penduduk di sana lebih banyak dihabiskan di rumah mereka.

Di samping itu semua, kemunculan bangunan yang ikonik tidak selalu berakhir sukses. Michelle Provoost memaparkan beberapa fakta mengenaskan; music hall rancangan Will Alsop kosong dalam beberapa tahun terakhir. Begitupun bangunan Sejima juga setengah bagiannya kosong, sehingga menyumbangkan masalah finansial yang cukup besar bagi kota. Para enterprenir di pusat kota—karya Koolhaas—juga mengeluhkan rancangannya, namun—menurut Michelle—protes terhadap rancangan pusat kota ini lebih ditujukan kepada kualitas konstruksi dibandingkan desain arsitekturalnya. Sebuah pengeculian pada satu bangunan, menurutnya, perpustakaan baru yang didesain oleh Meyer & Van Schoten dapat dikatakan cukup berhasil menarik banyak orang dan memberikan nilai tambah terhadap kota.

Bangunan ikonik karya arsitek ternama tak selalu menjadi solusi yang tepat bagi kota. Untuk menarik atensi internasional, starchitect dan bangunan ikoniknya mungkin mampu mendongkrak popularitas sebuah kota. Namun, untuk memengaruhi kehidupan dan perilaku masyarakat suatu kota, para arsitek perlu membaca dan menyesuaikan konteks, serta berpikir ekstra bagaimana bangunan ikoniknya tak hanya mampu merebut perhatian masyarakat internasional, tetapi juga berguna dan berpengaruh signifikan bagi keseharian masyarakat di kota tersebut.

Writer and Interviewer: Siti Arfah Annisa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s