etika dan hukum jurnalisme

Pelaporan investigasi memiliki kecenderungan untuk menjadi pelaporan fakta-fakta tanpa bukti sehingga memunculkan pelanggaran faktual. Hal ini terkait dengan berbagai permasalahan seperti pelabelan atau penjulukan, fitnah, atau pencemaran nama. Teori penjulukan ini menyatakan bahwa proses penjulukan ini dapat sedemikian hebat sehingga korban-korban misinterpretasi ini tidak dapat menahan pengaruhnya.

Untuk itu, jurnalis harus lebih akurat ketika menggambarkan “who and what we are” (siapa dan apa tugas jurnalis). Dalam sikap dan perilaku reportasenya, pekerjaan investigative reporting mengandung nilai etik jurnalistik. Jurnalis investigasi masih dibatasi oleh “self legislation” dan “self enforcement” di dalam pekerjaannya, serta tidak boleh melanggar batas-batas kode etik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s