art of my life
this painting has not finished yetVacuum of Power
Mohon maaf bagi pengunjung setia maupun pengunjung baru blog ini. Untuk sementara waktu dan dalam jangka waktu yang tidak tentu, blog ini akan divakumkan. Hal ini karena pemilik blog sedang fokus dalam suatu proyek penulisan buku. Mohon dimaklumi dan mohon do’anya juga. Terima kasih.
Menulislah, maka Engkau menjadi kaya.
Menulislah, maka Engkau akan cerdas.
Menulislah, maka Engkau akan sukses.
Menulislah, maka Engkau kan mendapat makna.
Menulislah, maka Engkau menjadi bahagia.
Menulislah, maka Engkau akan mengerti.
Menulislah, maka Engkau akan hidup 1000 tahun lagi.
Bocah Ajaib
CLEOPATRA STRATAN
Penyanyi Perempuan Umur 3 Tahun dengan Bayaran $1000 per Lagu
Cleopatra lahir pada 6 Oktober 2002, di Chisinau, Moldova dan merupakan anak dari penyanyi Pavel Stratan. Cleopatra adalah penyanyi termuda yang meraih sukses secara komersial, dengan albumnya yang diluncurkan tahun 2006 (ketika dia berumur 3 tahun). Dia juga memegang rekor sebagai penyanyi termuda yang tampil langsung selama 2 jam di depan penonton yang berjumlah besar, penyanyi termuda yang mempunyai bayaran paling tinggi, penyanyi termuda yang menerima MTV Award dan penyanyi termuda yang menembus #1 hit di negaranya.
GREGORY SMITH
Masuk Nominasi untuk Penghargaan Nobel Peace Prize pada Umur 12 Tahun
Lahir pada tahun 1990, Gregory Smith sudah mampu membaca pada umur 2 tahun dan masuk kuliah pada umur 10 tahun. Smith tidak hanya jenius, di waktu senggangnya, dia juga melakukan banyak perjalanan keliling dunia sebagai aktivis Perdamaian dan Hak Asasi Anak-anak. Smith merupakan pendiri International Youth Advocates, sebuah organisasi yang menjaga perdamaian dan memberikan bantuan untuk anak-anak di dunia. Dia pernah berdialog dengan Bill Clinton dan Mikhail Gorbachev, dan pernah memberikan pidato di depan PBB. Sampai saat ini, Smith sudah 4 kali dinominasikan dalam ajang penghargaan Nobel Peace Prize.
AELITA ANDRE
Pelukis Berumur 2 Tahun yang Karyanya Dipamerkan di Banyak Galeri
Lukisan-lukisan abstrak hasil karya pelukis Aelita Andre (2 tahun) membuat orang-orang dunia seni di Australia berdecak kagum. Aelita mendapat kesempatan untuk memamerkan karya-karyanya ketika Mark Jameison, Direktur Brunswick Street Gallery di Melbourne, diminta oleh seorang fotografer untuk menyertakan karya-karya Aelita di pameran kelompok dengan memperlihatkan sebagian karya-karya Aelita kepada Jameison. Jameison menyetujui untuk menyertakan karya-karya Aelita tanpa mengetahui siapa sebenarnya Aelita.
Jameison mulai mempromosikan pamerannya, mencetak undangan-undangan dan menayangkan iklan di majalah seni seperti Art Almanac dan Art Collector. Setelah itulah, Jameison menemukan fakta mencengangkan bahwa sang pelukis, Aelita Andre, adalah seorang anak kecil, putri dari Mr.Kalashikova, dan hanya berumur 22 bulan.
Kini Aelita dan karya-karyanya banyak diperbincangkan dan dipakai oleh berbagai media seperti BBC World News, Telegraph (England), Art Collector, Art Almanac, dan publikasi-publikasi internasional di Jerman, Rusia, Spanyol, China, Asia, Japan, Usa, dan lainnya.
Berikut lukisan Aaelita:
Spoiler for Eagle
Spoiler for Sausage Dog
Spoiler for MIR Space Station in Cherry Blossoms
Spoiler for Lapis Lazuli (Dragon with Gemstone in Mouth)
KIM UNG-YONG
Masuk Universitas Pada Umur 4 Tahun, Meraih Gelar Ph.D Pada Umur 15 Tahun, IQ Tertinggi di Dunia
Pria yang berasal dari Korea ini merupakan pria terpintar di dunia (masuk Guiness Book of World Records sebagai orang yang mempunyai IQ tertinggi di dunia). Umur 4 tahun, dia sudah bisa membaca dalam bahasa Jepang, Korea, Jerman, dan Inggris. Pada umur 5 tahun, dia mampu menyelesaikan soal-soal kalkulus diferensial dan integral. Pada sebuah acara televisi Jepang, dia mendemonstrasikan kefasihannya dalam berbicara bahasa China, Spanyol, Vietnam, Tagalog, Jerman, Inggris, Jepang, dan Korea. Kim tercatat dalam Guiness Book of World Records di bawah kategori “IQ Tertinggi”, dalam buku tersebut disebutkan bahwa nilai Kim melebihi 210.
Kim pernah menjadi ‘murid bawang’ di fakultas psikologi di Hanyang University pada saat berumur 3 sampai 6 tahun. Umur 7 tahun dia diundang ke Amerika oleh NASA. Dia menyelesaikan kuliahnya, dan meraih gelar Ph.D jurusan Fisika di Colorado State University sebelum genap berumur 15 tahun. Pada tahun 1974, sambil tetap menjalani kuliahnya, dia memulai pekerjaannya di NASA sebagai peneliti, dan terus digelutinya sampai dia akhirnya kembali ke Korea pada tahun 1978, yang kemudian akhirnya beralih dari Fisika ke Teknik Sipil dan meraih gelar Doktor di bidang tersebut.
ELAINA SMITH
Penyiar Radio Termuda Sepanjang Sejarah Penyiaran Radio
Seorang anak sekolah yang bicara ceplas-ceplos menjadi seorang penyiar radio termuda di Inggris pada umur 7 tahun. Elaina Smith mengagetkan sebuah stasiun radio lokal di daerahnya ketika satu waktu dia menelepon ke radio tersebut dan menasihati seorang pendengar yang sedang curhat. Si penyiar pada saat itu sangat kagum dengan nasehatnya. Mereka kemudian menawarkan jatah waktu siaran mingguan kepada Elaina untuk memberikan tips-tips kepada ribuan pendengar dewasa. Elaina akhirnya bergelut dalam siarannya dengan memberikan nasehatnya.
AKRIT JASWAL
Dokter Bedah Berumur 7 Tahun
Akrit Jaswal adalah seorang anak India yang disebut-sebut sebagai “the world’s smartest boy”.
Akrit meraih perhatian publik ketika pada tahun 2000, dia melakukan pengobatan medis pertamanya. Saat itu dia berumur 7 tahun. Pasiennya – seorang anak perempuan lokal yang tidak mampu berobat ke dokter – berumur 8 tahun. Tangan anak perempuan itu terbakar api, menyebabkan jari-jarinya dalam posisi menggenggam dan tidak bisa dibuka. Akrit belum pernah mendapatkan latihan atau pengalaman di bidang pembedahan sebelumnya, akan tetapi dia mampu melakukan pembedahan sehingga jari-jari anak perempuan tersebut dapat terbuka kembali dan mampu untuk menggunakan fungsi tangannya sebagaimana mestinya.
Akrit memfokuskan kepandaiannya ke bidang pengobatan dan pada umur 12 tahun, dia mengklaim bahwa dia sedang dalam penelitian untuk penyembuhan penyakit kanker. Saat ini dia sedang menjalani kuliahnya di jurusan Science di Chandigarh College dan merupakan mahasiswa termuda yang pernah diterima oleh Universitas di India.
SAYYID MOHAMMAD HUSEIN TABATABA’I
Doktor Cilik Penghafal Al Quran
Seorang anak kecil yang baru berusia 7 tahun tetapi sudah hafal dan paham Al-Quran. Anak kecil ini bahkan bisa memahami Al-Quran walaupun bahasa ibunya bukan bahasa Arab, anak ini bernama Sayyid Mohammad Husein Tabataba’i. Pada Bulan February 1998, di Kerajaan Inggris tepatnya di Hijaz College Islamic University, Husein yang waktu itu baru berusia 7 tahun menjalani ujian doktoral. Ujian yang harus dilaluinya terdiri dari 5 bidang :
- Menghafal Al-Quran dan menerjemahkan dalam bahasa ibu (persia)
- Menerangkan topik ayat Al-Quran
- Menafsirkan dan menerangkan ayat Al-Quran dengan ayat lainya dalam Al-Quran
- Bercakap-cakap dengan menggunakan ayat-ayat Al-Quran
- Menerangkan makna Al-Quran dengan metode isyarat tangan
Setelah menjalani ujian selama 210 menit, akhirnya tim penguji memberi nilai 93. Dimana nilai ini mengukuhkanya sebagai Doktor Honoris Causa. Standard Penilaian :
- 60 – 70 Sertifikat diploma
- 70 – 80 Sarjana Kehormatan
- 80 – 90 Magister Kehormatan
- 90 keatas Doktor Kehormatan (honoris cause)
Pada tanggal 19 Februari 1998 Husein menerima ijazah Doktor Honoris Causa dalam bidang Science of The Retention of The Holy Quran.
Kalau kita, apa yang sudah dilakukan dan dicapai sampai sekarang?
Aku Memang Anak Kecil
Aku memang anak kecil
Apakah itu berarti tidak ada yang kuketahui?
Aku percaya dengan pikiranku sendiri
Tak ada politik kepentingan dalam otak
Hanya ingin terus berpikir
Meyakini, mengatakan, menjalani
Inilah aku dengan segala kekuranganku
Tapi tak pernah ada yang mendengarnya
Apalagi sekadar menengokan kepala
Hanya karena aku masih kecil?
Tak banyak mengenyam pahit
Hanya berujar pengalaman kehidupan
Mengucapkan apa yang ada di hati
Tak pernah ada yang mempedulikan
Aku tahu orang dewasa lebih segalanya
Lantaskah ia sombong dengan hidupnya?
Tak sedikitpun melirik sang anak
Enggan melihat kebenaran dari seorang bocah
Setinggi itukah ego di depan anak kecil ini?
Terserahlah…
Aku memang anak kecil
Tapi aku percaya kebenaran yang kuyakini
Sebuah Tinjauan Medis: Larangan Minum dan Makan sambil Berdiri
Dari Anas dan Qatadah, Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya beliau melarang seseorang minum sambil berdiri, Qotadah berkata: ”Bagaimana dengan makan?” beliau menjawab: “Itu lebih buruk lagi”. (HR. Muslim dan Turmidzi)
Bersabda Nabi: Dari Abu Hurairah, “Jangan kalian minum sambil berdiri ! Apabila kalian lupa, maka hendaknya ia muntahkan !” (HR. Muslim)
Rahasia Medis
Dr. Abdurrazzaq Al-Kailani berkata: “Minum dan makan sambil duduk, lebih sehat, lebih selamat, dan lebih sopan, karena apa yang diminum atau dimakan oleh seseorang akan berjalan pada dinding usus dengan perlahan dan lembut. Adapun minum sambil berdiri, maka ia akan menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dasar usus, menabraknya dengan keras, jika hal ini terjadi berulang-ulang dalam waktu lama maka akan menyebabkan melar dan jatuhnya usus, yang kemudian menyebabkan pernah sekali minum sambil disfungsi pencernaan.
Adapun Rasulullah pernah berdiri, maka itu dikarenakan ada sesuatu yang menghalangi beliau untuk duduk, seperti penuh sesaknya manusia pada tempat-tempat suci, bukan merupakan kebiasaan. Ingat hanya sekali karena darurat!
Begitu pula makan sambil berjalan, sama sekali tidak sehat, tidak sopan, tidak etis dan tidak pernah dikenal dalam Islam dan kaum muslimin.
Dr. Ibrahim Al-Rawi melihat bahwa manusia pada saat berdiri, ia dalam keadaan tegang, organ keseimbangan dalam pusat saraf sedang bekerja keras, supaya mampu mempertahankan semua otot pada tubuhnya, sehingga bisa berdiri stabil dan dengan sempurna. Ini merupakan kerja yang sangat teliti yang melibatkan semua susunan syaraf dan otot secara bersamaan, yang menjadikan manusia tidak bisa mencapai ketenangan yang merupakan syarat terpenting pada saat makan dan minum. Ketenangan ini bisa dihasilkan pada saat duduk, dimana syaraf berada dalam keadaan tenang dan tidak tegang, sehingga sistem pencernaan dalam keadaan siap untuk menerima makanan dan minum dengan cara cepat.
Dr. Al-rawi menekankan bahwa makanan dan minuman yang disantap pada saat berdiri, bisa berdampak pada refleksi saraf yang dilakukan oleh reaksi saraf kelana (saraf otak kesepuluh) yang banyak tersebar pada lapisan endotel yang mengelilingi usus.
Refleksi ini apabila terjadi secara keras dan tiba-tiba, bisa menyebabkan tidak berfungsinya saraf (Vagal Inhibition) yang parah, untuk menghantarkan detak mematikan bagi jantung, sehingga menyebabkan pingsan atau mati mendadak.
Begitu pula makan dan minum berdiri secara terus –menerus terbilang membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka pada lambung. Para dokter melihat bahwa luka pada lambung 95% terjadi pada tempat-tempat yang biasa bebenturan dengan makanan atau minuman yang masuk.
Air yang masuk dengan cara duduk akan disaring oleh sfringer. Sfringer adalah suatu struktur maskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada ‘pos-pos’ penyaringan yang berada di ginjal. Nah. Jika kita minum berdiri air yang kita minum tanpa disaring lagi. Langsung menuju kandung kemih. Ketika langsung menuju kandung kemih, maka terjadi pengendapan disaluran ureter.
Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter. Inilah yang bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal. Salah satu penyakit ginjal yang berbahaya. Susah kencing itu penyebabnya.
Sebagaimana kondisi keseimbangan pada saat berdiri disertai pengerutan otot pada tenggorokan yang menghalangi jalannya makanan ke usus secara mudah, dan terkadang menyebabkan rasa sakit yang sangat yang mengganggu fungsi pencernaan, dan seseorang bisa kehilangan rasa nyaman saat makan dan minum.
Oleh karena itu marilah kita kembali hidup sehat dan sopan dengan kembali ke pada adab dan akhlak Islam, jauh dari sikap meniru-niru gaya orang-orang yang tidak mendapat hidayah Islam.
Healthy Juices
Boost and cleanse our system.
Prevent cancer, reduce cholesterol, and eliminate stomach upset and headache.
Improve skin complexion and eliminate bad breath.
Avoid bad breath and reduce internal body heat.
Improve skin texture and moisture and reduce body heat.
To dispel excess salts, nourishes the bladder and kidney.
To improve skin complexion.
Regulates sugar content.
Clear body heat, counteracts toxicity, decreased blood pressure and fight.
Rich in vitamin C and vitamin B2 that increase cell activity and strengthen body immunity.
Rich in vitamin C, E, and iron. Improve skin complexion and metabolism.
Rich in vitamin with nutritious and prevent constipation.
Bulan Juni
Ada apa dengan bulan juni ini?
Ada yang bilang bulan juni bulan dauroh. Ada yang bilang bulan ini bulan kepanitiaan. Ada yang senang karena itu berarti liburan dan pulang ke kampung halaman. Ada yang tegang menanti nilai yang belum keluar.
Namun, bagiku bulan ini justru bulan ujian.
Tidak ada lagi rutinitas yang biasa kutemui. Tidak ada kuliah, rapat di pagi hari atau penghujung sore, mengerjakan tugas, ataupun bertemu saudara-saudara seperjuangan selepas kuliah. Namun, justru di situlah letak ujiannya.
Waktu 24 jamku yang biasanya sudah terisi dengan aktivitas rutin bisa menjadi waktu tanpa manfaat. Sudah tak ada lagi kegiatan yang biasanya mengisi penuh buku agenda. Jadi, apa yang bisa dilakukan?
“Hendaknya engkau menunaikan dengan baik hak dirimu dan orang lain secara sempurna tanpa sedikit pun mengurangi dan tanpa mengulur-ulur waktu dan menundanya.”
Kalimat itulah yang pertama kali kubaca ketika sedang berupaya menyibukkan diri. Dan, Masya Allah, pernahkah kita menghitung berapa banyak hak diri dan orang lain yang belum kita penuhi?
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda (yang artinya), “Sungguh badanmu punya hak atas kamu, istrimu punya hak atas kamu, dan dirimu punya hak atas kamu maka berilah masing-masing haknya.”
Diriku punya hak atas diriku? Ya, diriku punya hak jasad, ruh, dan pikiran. Apakah semuanya sudah ditunaikan? Kadang, banyak orang lupa atas hak terhadap dirinya sendiri. Ia sibuk menunaikan haknya atas orang lain, namun tidak memikirkan hak dirinya sendiri. Bukankah dalam hidup kita harus adil dan amanah? Apakah adil namanya ketika porsi antara hak diri dan orang lain berbeda? Apakah amanah namanya kalau jasad, ruh, dan pikiran yang dititipkan Allah tidak dijaga dengan baik?
‘Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya. Dia tidak pantas mendzaliminya dan merendahkannya, barang siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi keperluannya. Barang siapa yang melepaskan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan melepaskan kesulitannya kelak pada hari kiamat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya kelak pada hari kiamat.” (HR Bukhari dan Muslim)
Sudahkah aku melunaskan semua utangku pada saudaraku? Sudahkah aku memenuhi kebutuhan saudaraku atas diriku? Masih banyak hak yang harus ditunaikan. Masih banyak hal yang harus dikerjakan.
“Rasulullah Salallahu’alaihi wassalam bersabda: ‘Tolonglah saudaramu, baik orang yang terdzalimi maupun yang mendzalimi.’ Seseorang berkata: “Wahai Rasulullah, aku tentu menolongnya jika seseorang terdzalimi, namun bagaimana cara menolong seseorang yang berbuat dzalim?’ Beliau bersabda: ‘Engkau menghalangi atau mencegahnya dari berbuat dzalim, sebab yang demikian merupakan bentuk pertolongan kepadanya.’” (HR Bukhari)
Waktuku hanya 24 jam sehari. Tetapi apakah tiap detiknya sudah diisi dengan hal yang bermanfaat?
Sudahkah kaki ini hanya berjalan untuk mengerjakan kebaikan? Bukan berjalan ke tempat-tempat penuh maksiat?
Sudahkah tangan ini bergerak untuk hal-hal yang baik? Bukan hanya menulis hal tidak berguna, mengetik hal tidak bermanfaat, sms yang tidak penting, ataupun berbuat dzalim?
Sudahkah mata ini hanya melihat hal-hal yang baik? Bukan sekadar menonton televisi, searching di internet untuk hal yang sia-sia?
Sudahkah mulut ini berbicara untuk kebaikan? Bukan ghibah membicarakan fulan, mengumpat kondisi politik dan pemerintahan, atau bercanda tanpa makna?
Sudahkah telinga ini mendengarkan kata-kata yang baik? Bukan mendengarkan gosip, gunjingan, atau lagu dan musik duniawi?
Sudahkah pikiran ini memikirkan kepentingan ummat? Bukan hanya untuk mengkhayal, tidur, bermimpi, atau malas berpikir lagi?
Sudahkah hati ini tetap terjaga bersih? Bukan tempatnya dengki, iri, sombong, dan penyakit hati lainnya?
TOLONG KATAKAN JIKA ADA HAK YANG BELUM AKU PENUHI HINGGA KINI!
Konsep Arsitektur Islam dalam Rumah Tinggal
Madain Saleh

Tsamud adalah salah satu dari bangsa yang dimusnahkan karena kesombongan terhadap wahyu ilahi dan mengabaikan peringatan-peringatan Allah. Sebagaimana dinyatakan dalam Al Quran, kaum Tsamud dikenal dengan kemakmuran dan kekuatannya dan mereka merupakan sebuah negeri yang unggul dalam seni.
Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan. (QS. Al A’raaf, 7: 74)

Pada ayat lain, lingkungan sosial kaum Tsamud digambarkan sebagai berikut:
Adakah kamu akan dibiarkan tinggal disini dengan aman, di dalam kebun-kebun serta mata air, dan tanam-tanaman dan pohon-pohon korma yang mayangnya lembut. Dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin. (QS. Asy-Syu’araa’, 26: 146-149)

Karena bergembira ria dalam kemakmuran, kaum Tsamud menjalani hidup yang mewah. Dalam Al Quran, Allah menyebutkan bahwa nabi Shalih dikirim untuk memberi peringatan kepada mereka. Nabi Shalih adalah orang yang dikenal di kalangan kaum Tsamud. Kaumnya, yang tidak mengira ia akan menyerukan agama yang hak, terkejut atas ajakannya agar mereka meninggalkan kesesatan. Sebagian kecil masyarakat menuruti panggilan Shalih, tetapi kebanyakan tidak menerima perkataannya. Khususnya, para pemuka kaum menolak Shalih dan memusuhinya. Mereka mencoba menyakiti siapa saja yang mempercayai Shalih dan menekan mereka. Mereka murka kepada Shalih karena dia menyeru mereka untuk menyembah Allah.
Kaum Tsamud berkeras untuk bersikap angkuh dan tidak pernah mengubah perilaku mereka terhadap nabi Shalih dan malahan merencanakan untuk membunuhnya. Shalih memperingatkan mereka lebih jauh dengan mengatakan: “Adakah kamu akan dibiarkan tinggal disini dengan aman” (QS. Asy-Syu’araa’, 26: 146-149). Memang, kaum Tsamud meningkatkan penyelewengan mereka karena tidak sadar akan azab Allah dan menantang Nabi Shalih dengan sombong dan penuh kegirangan:
Hai Shalih, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang diutus. (QS. Al A’raaf, 7: 77)
Nabi Shalih memberi tahu mereka, dari wahyu Allah, bahwa mereka akan dibinasakan dalam waktu tiga hari. Tiga hari kemudian, peringatan Nabi Shalih menjadi kenyataan dan kaum Tsamud pun musnah. Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya, seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud. (QS. Huud, 11: 67-68)
Menyedihkan, kaum Tsamud membayar ketidakpatuhan mereka terhadap nabi mereka dengan kehancuran. Bangunan-bangunan yang mereka dirikan dan karya-karya seni yang mereka hasilkan tidak dapat melindungi mereka dari hukuman. Kaum Tsamud dihancurkan dengan azab yang memilukan sebagaimana semua kaum lain yang menolak keimanan sebelum dan sesudah mereka. Singkatnya, akhir mereka sesuai dengan tingkah laku mereka. Mereka yang ingkar dihancurkan sama sekali, dan mereka yang patuh menerima kebebasan abadi.
Allah SWT Tahu Kita Sibuk
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan akan meneguhkan kedudukanmu¨ (QS. Muhammad : 7)
Sebagai seorang kader dakwah atau aktivis mahasiswa yang berjuang membawa panji Islam, sudah seharusnyalah kita mempunyai hubungan yang kokoh dan kuat dengan Allah SWT (Quwwatush-shilahbillah). Dan sesungguhnya, kalau kita sadari ada banyak sarana yang bisa kita jadikan sebagai opsi atau pilihan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hubungan tersebut.
Di dalam buku Al Mustakhlash Fii Tazkiyatil Anfus, Al Ustadz Said Hawwa menuliskan paling tidak ada 13 sarana yang bisa kita jadikan sebagi wasilah untuk mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Mulai dari shalat, zakat-infak-shodaqoh, shaum, haji, tilawahQur’an, dzikrullah, tafakkur alam dan seterusnya.
Meskipun demikian, kita masih sering merasakan adanya kekeringan ruhani, apalagi ditengah kesibukan dan padatnya aktivitas kita di kampus seperti sekarang. Hal tersebut wajar, jika kita memang sangat jarang mengaliri qalbu kita dengan siraman- siraman ruhani berupa sarana-sarana yang telah disediakan oleh Allah SWT tersebut. Atau istilah HP-nya, kita jarang mengeces baterai-baterai ruhani kita dengan amaliyah tersebut.
Alasan yang sering kita kemukakan selalu sama dan klasik : sibuk-lah, repot-lah, banyak rapat dan agenda kegiatan lain (yang insya Allah juga untuk kepentingan dakwah Illalah-red), alias susah mendapatkan waktu senggang untuk menyiram tanaman ruhiyah kita.
Kadangkala kalau kita berkumpul dengan sesama ikhwah, sesama kader dakwah, aktivis mahasiswa yang komitmen dengan nilai-nilai Islam–entah dalam majelis ilmu, halaqoh pekanan, syuro’ atau majelis-majelis zikir yang lain– kita merasa mendapatkan setetes embun kesejukan di tengah gersangnya hati kita dan seolah kita mendapatkan siraman air hujan di tengah teriknya padang pasir, dan ketika itu kita ingat bahwa ruhiyah kita sedang sangat kekeringan dan dalam hati kita bertekad untuk mencoba melakukan amal-amal kebaikan yang dapat mengantarkan kita untuk terus mendapatkan nuansa kesejukan itu.
Namun, apa yang terjadi begitu kita keluar dari majelis-majelis tersebut ? Ketika kita kembali bertemu dengan aktivitas yang menumpuk? Ketika kita kembali di tengah-tengah kondisi yang ternyata tidak mendukung kita untuk tetap istiqomah? Ternyata, kita kembali menjadi manusia-manusia yang sibuk, bahkan manusia super sibuk (mudah-mudahan tidak menjadi manusia yang sok sibuk) dan kita lupakan sebuah niatan kita untuk melakukan siraman-siraman yang bisa menyuburkan iman kita.
Namun, kita perlu mengingat bahwa kesibukan kita tidak berarti meninggalkan langkah-langkah kita untuk melakukan siraman- siraman dan pengecesan baterai ruhiyah kita. Dan yang perlu kita sadari bahwa kesibukan kita tidaklah akan pernah selesai, karena sebagai seorang muslim kita harus berprinsip, bahwa istirahat kita adalah perpindahan dari satu aktivitas ke aktivias yang lain, dan istirahat yang sejati kita adalah ketika kita bertemu dengan maut dalam keadaan siap untuk mempersembahkan amal-amal yang terbaik untuk kita pertanggungjawabkan di hadapan Rabb kita. Insya Allah.
Dan ingatlah sebuah pesan dari Al Imam Hassan Al Banna, bahwa “Kewajiban dakwah kita lebih banyak dari waktu yang tersedia”.
Mari kita renungkan bersama satu firman Allah SWT berikut ini : “Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang ynag bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu, maka Dia memberi keringnan kepada kamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada diantara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian nikmat Allah; dan orang- orang yang lain lagi yang berperang dijalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an itu dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang¡¨ (QS Al Muzzamil : 20).
Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa Allah SWT mengetahui bahwa kemampuan kita dalam berqiyyamulllail berbeda-beda, ada yang hampir mampu mencapai 2/3 malam, ada yang mampu setengah malam, dan ada pula yang sepertiga malam. Allah SWT-lah yang menentukan ukuran-ukuran siang dan malam. Allah SWT mengetahui bahwa kita ini lemah dan tidak akan mampu melakukan kewajiban (karena pada waktu itu qiyyamullail setengah malam adalah kewajiban kaum muslimin). Allah SWT mengetahui bahwa diantara kita ada yang sakit, ada yang sibuk mencari ma’isyah, ada pula yang sibuk berperang fii sabilillah. Meskipun Allah SWT mengetahui kesibukan kita, namun Dia tetap memerintahkan kepada kita untuk membaca Al Qur’an (bahkan diulang sampai 2 kali) sesuai dengan kemudahan kita, menegakkan shalat, membayar zakat, memberikan pinjaman yang baik kepada Allah SWT (sedekah dan semacamnya), dan banyak-banyak beristighfar. Artinya, kalau kita kita sesuaikan dengan kondisi kita saat ini, betapapun kesibukan yang melanda kita, padatnya agenda aktivitas kita dan banyaknya jadwal rapat ini dan koordinasi itu, kita tidak boleh melupakan tugas menyirami ruhiyah kita dan mengecesnya dengan berbagai sarana yang ada.
Ada sebuah kisah di zaman Rasulullah SAW. Waktu itu ada seorang sahabat bernama Hanzhalah yang bertemu sahabat Abu Bakar Ash-shidiq radhiyallahu ‘anhu. Begitu bertemu, Hanzhalah berkata kepada Abu Bakar, “Nafaqa Hanzhalah” (Hanzhalah menjadi munafiq). Mendengar pernyataan seperti itu Abu Bakar kaget, lalu bertanya, “Kenapa ?” Hanzhalah menjawab, “Kalau saya berada di majelis Rasulullah SAW, seakan saya melihat dengan mata kepala sendiri suasana surga dan neraka, akan tetapi ketika saya bertemu dengan anak-anak dan istri saya, saya semua lupa apa yang saya rasakan tadi”. Mendengar penjelasan seperti itu, Abu Bakar berkata, “Kalau begitu, sama seperti saya”. Singkat cerita mereka menghadap Rasulullah saw dan menceritakan perasaan dan problem mereka, Nabi saw menjawab, ”………, akan tetapi sa-’ah wa sa’-ah”. Maksudnya bagilah (split-lah) waktumu agar ada saat untuk ini dan ada saat untuk itu. (HR. Bukhari).
Kita harus pandai memanfaatkan serpihan-serpihan waktu kita dan mendayagunakannya untuk melakukan siraman ruhiyah kita dan pengecesan baterai qalbu kita. Daripada sibuk mencari obyek untuk “cuci mata”, lebih baik kita menyibukkan diri kita dengan berdzikir sambil berjalan ke kampus. Daripada melamun hal-hal jorok, mungkin kita bisa tilawah qur’an atau membaca buku sambil menunggu teman lain yang belum datang untuk rapat, dan banyak peluang kebaikan yang lain yang sesungguhnya bisa kita siasati, jika kita bersungguh-sungguh.
Pada suatu ketika Rasulullah saw memperingatkan kita dengan sabdanya : “Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidak ada yang memberat-beratkan diri sendiri kecuali agama itu akan mengalahkannya, karenanya luruskan langkah dan kokohkan, berusahalah untuk selalu mendekati (target ideal), bergembiralah (jangan pesimis) dan meminta tolonglah dengan waktu pagi, waktu sore dan sedikit malam” (HR Bukhari).
Terakhir sekali, kita harus pandai mendiversivikasi kegiatan/aktivitas kita dengan berbagai ragam kegiatan agar tidak cepat bosan, ingatlah bahwa, “Sesungguhnya Allah SWT tidak akan bosan sehingga kita bosan, dan bebanilah jiwa ini sesuai dengan kadar kemampuannya dan bahwasanya amal yang paling dicintai Allah SWT adalah yang kontinu” (HR Ahmad, Abu Daud, dan An Nasa’i).
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan taufiq, bimbingan dan kekuatan kepada kita untuk istiqomah diatas jalan-Nya dan memberikan kemudahan kepada kita mencapai jannah-Nya. Amiin.
(Dikutip dari tulisan Ustadz Musyaffa Ahmad Rahim dalam buku Rambu-Rambu Amal)
“Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakannya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS At Taubah : 105)
Futurnya Seorang Ikhwah
Musim semi kini telah tiba
Bunga-bunga bermekaran
Di sepanjang jalan warna berganti
Segar asri berseri… di hati
“Aku ingin keluar dari jamaah ini!”, sepotong kalimat terlontar dari seorang ikhwah. Bukan untuk yang pertama kali, namun sudah tak terhingga kalimat ini mengiang di telinga kita. Bukan pula yang terakhir kali, karena inilah sunatudda’wah. Pernyataan ini senantiasa membekas di setiap zaman, di setiap episode dakwah, dari zaman kenabian sampai hari kiamat.
“Silahkan akhi… silahkan ukhti…”, jawab seorang ikhwah menimpali. Beberapa dari kita mempersilahkan kepergian saudara dari barisan ini dengan sikap biasa-biasa. Sikap yang lahir dari pemahaman bahwa hal ini merupakan sunnah dakwah, bahwa akan selalu lahir ikhwah-ikhwah baru, mujahid-mujahid baru, bahwa Islam akan tetap terpelihara sehingga tidak pantas barisan ini merengek-rengek demi menahan kepergian seseorang, bahwa seleksi alamiah berlaku untuk membersihkan orang-orang yang barangkali memang kurang pantas mengemban amanah ini. Sikap ini tidak salah, banyak yang menerapkan dengan apa adanya, maka akhirnya tidak sedikitlah yang benar-benar mundur dari barisan ini.
Saat kita bersemangat, memiliki level iman yang stabil atau sedikit lebih baik, kita seolah-olah melihat saudara kita pun seperti kita. Menerapkan standar stabilitas keimanan kita kepada saudara-saudara kita, atau bahkan adik (ikhwah baru) kita. Maka, ketika kondisi saudara kita tidak stabil, sedang mengalami fluktuasi iman, futur, kita pun menganggapnya sebagai kader manja. Kita melihatnya dengan perspektif berbeda dengan apa yang dirasakannya atau yang dibutuhkannya. Kita yang stabil memaksa agar ia bisa survival bertahan di garis keimanan. Sehingga kita tidak merasa terlalu perlu untuk memberinya nasihat, atau motivasi-motivasi keimanan. Sementara betapa ia butuh sentuhan-sentuhan perhatian kita.
Kita berpikir bahwa suatu saat, kita akan hidup sendiri tanpa seorang ikhwah yang menemani di suatu daerah. Sehingga kita mengira bahwa kita harus bersiap-siap untuk hal tersebut. Maka ketika ada seorang yang futur, kita bersikap seolah-olah tidak peduli padanya. Dan ketika dia benar-benar mengucapkan, “selamat tinggal”, kita menyalahkannya atas kelemahannya. Kita menyelamatkan diri atas kesalahan dari futurnya saudara, dengan hiburan-hiburan bahwa ini adalah sunatuddakwah.
Tidak sedikit kisah-kisah futurnya ikhwah dari barisan ini setelah tarbiyah bertahun-tahun. Bukan hal yang mengejutkan memang, ulama bahkan ada yang murtad, berganti haluan, ustadz pun ada yang terjatuh, saat tergiur dengan indahnya dunia. Kehilangan seorang yang telah memiliki kepahaman dan mobilitas dakwah yang tinggi, apakah bisa diganti dengan masuknya 50 orang baru dalam barisan ini, tanpa kepahaman dan aksi dakwah yang mapan? Lepasnya seorang kader produktif apakah bisa ditutupi dengan hiburan bahwa 50 baru orang yang baru-baru mengikuti daurah tahap awal, dengan produktifitas dakwah yang masih nol?
Saudaraku, apakah orang yang baru tarbiyah 1 atau 5 tahun telah bisa menyamai kepribadian Ka’ab bin Malik ra? Nilai keimanan memang tidak bisa diukur dengan lamanya tarbiyah, namun kita bisa melihat secara umum bagaimana kondisi keimanannya dengan parameter usia interaksinya dengan dakwah. Apakah kita akan menyikapi seorang yang baru setahun liqo dengan sikapnya Musa as. kepada Harun as. saat beliau menarik jenggot saudaranya? Atau kita mencoba mengikuti marahnya Abu Bakar ra kepada Umar ra yang memilih jalur `lembut’ dalam menyikapi Musailamah dan orang-orang yang menolak zakat? Sekeras itukah kita berperilaku terhadap seorang ikhwah. Dimana senyummu saat pertama bertemu bersama dalam dakwah ini, dimana pelukmu seperti kepada adik-adikmu yang baru masuk dalam aksi tarbiyah?
Kunjungilah saudaramu, ketika lama ia tidak menyapamu, sms-lah ia saat sang adik tidak pernah muncul-muncul dalam pertemuan keimanan. Datangilah mereka yang lemah, mereka yang manja, tularkan petuah-petuah juangmu. Apakah benar sudah saatnya mereka survival dalam menjaga stablitas keimanananya. Tidak, tidak ya akhi ya ukhti, cukuplah derai airmata ini, cukuplah kesedihan hilangnya seorang ikhwah `berhenti’ sampai disini, dekaplah dan tahanlah mereka yang hendak pergi.
Kuntum bunga boleh layu, namun rekahnya bunga-bunga mujahid harus terjaga tetap hadir di sebuah kebun…
Dunia ibarat sebuah terminal
Hanya tempat persinggahan
Bersabarlah hadapi ujian
Tak kan lama kan tinggal
































