art of my life
this painting has not finished yetBerada di Ujung Tanduk (Bagian Dua)
20 Agustus 2007, 07:06 pm
Ketenangan hati seketika lenyap mengingat bahwa aku hanya seorang diri. Tak ada kerabat. Tak ada teman dekat. Tak ada pemberi nasihat. Intinya, tak ada satu pun manusia yang dapat membantuku saat ini. Hatiku sedang gundah menghadapi realita kemandirian. Jiwaku ikut resah melalui berbagai tantangan kehidupan. Jauh sekali kurasakan jalan keluar itu. Aku ingin bangkit! Aku ingin bangun dari keterpurukan! Aku ingin terjaga dari kegelisahan! Aku akan terus berusaha! Ya Rabb, bantulah hamba-Mu ini.
23 Agustus 2007, 06:19 pm
Kosong dan hampa memasuki perjalananku. Tak ada lagi sensasi yang biasa kurasakan, kini. Aku seperti berjalan di tanah datar tandus tanpa tetes air. Haus namun tetap harus bergerak. Dimana kan kutemui kepuasan batin itu kembali? Hanya kesabaran yang kusaksikan terus hadir bertubi-tubi dalam setiap relung kehidupan ini. Jiwa senantiasa meraung-raung meminta sesuap makan. Belum ada yang bisa kuberikan, cuma sebuah keyakinan bahwa nanti kan kutemukan masanya.
26 Agustus 2007, 06:45 pm
Langkah demi langkah mulai aku tapaki. Tak tahu sejauh mana tujuan itu kan tercapai, hanya dapat dipastikan dengan sebuah perjalanan dan perjuangan yang panjang. Lika liku baru telah muncul. Tak sekadar hentakan kecil ataupun usikan yang lemah, tapi merupakan tantangan hebat yang sedang menunggu untuk memperlihatkan taringnya. Perjuangan berat akan dimulai kembali. Jalan ini panjang dan aku tak tahu kapan berakhirnya. Aku hanya akan terus melaluinya dengan mengalir seperti air, yang tentu saja bermuara ke laut, ke surga-Nya yang haqiqi.
27 Agustus 2007, 07:11 pm
Hari ini penuh dengan kejutan. Penuh dengan ketegangan. Penuh dengan kebahagiaan. Penuh dengan persahabatan. Penuh dengan kerja sama. Begitu banyak hal yang terjadi ketika pagi ini aku kembali membuka mataku. Komplikasi peristiwa bermunculan bagai lepas bebas dari sangkar pengurungan. Hari ini banyak makna yang terpetik. Sekali lagi aku rasakan dan aku buktikan bahwa hidup itu adalah nikmat dan amanat.
12 September 2007, 05:44 am
Hidup itu nikmat dan amanat. Sebuah kalimat yang perlu direnungi maknanya. Singkat namun kaya akan arti. Kurasakan hal itu beberapa waktu lalu ketika sebuah beban harus dipikul dalam satu kerja sama yang kokoh. Jalan ini memang berat, tapi berpikirlah itu nikmat, agar kejenuhan dan kelelahan terusir jauh meninggalkan.
25 September 2007, 06:32 am
Aku rindu perjuangan seperti dulu. Aku rindu mobilitas ketika itu. Aku rindu berukhuwwah dengan semua saudaraku. Tapi kini, aku harus memulai kembali dari awal, meniti lagi dari start perjalanan, dan berusaha mengawali sebuah jalan baru. Ya Rabb, berikanlah aku pundak yang kuat agar mampu menanggung beratnya amanah ini.
21 November 2007, 02:56 pm
Meski harus kulalui proses panjang yang terjal, akan kutempuh. Namun entah perasaan apa yang selalu membuatku terbentur buntu berkali-kali. Sesaat aku berkobar, di lain waktu aku lemah. Mengapa? Hal itu tak terjawab hingga kini, masih kucari di sebuah jalan.
Berada di Ujung Tanduk (Bagian Satu)
29 Juni 2007, 07:27 am
Hati ini bertambah yakin bahwa memang hanya Allah yang senantiasa peduli kepada hambaNya. Meskipun banyak saudara-saudara di sekeliling, tetapi mereka tetap saja manusia yang memiliki sisi keegoisan dalam diri. Terkadang jikalau diri ini sedang dilanda resah dan gelisah, mereka justru menambah beban masalah. Ketika pikiran membutuhkan seseorang untuk tempat berbagi, tak ada satupun yang mau memberi. Ya Rabb, dimanakah saudara-saudara yang bisa saling mengerti dan memahami? Akankah diri ini menemukan sosok itu nanti? Biarlah kutunggu waktu itu. Biarlah kini kutetap berkeluh kesah padaMu. Biarlah saat ini dinding kamarku kan selalu mendengar curahan hatiku setiap malam, sampai nanti kutemukan saudara sejati.
29 Juni 2007, 09:58 am
Entah kenapa, kurasa diri ini kian hitam dalam lumpur dosa. Entah sudah seberapa tinggi, gunung kekhilafan yang tiap hari terus kutambah. Entah sudah seberapa banyak, hati yang tersakiti karena kedhoifan yang selalu kutanam. Hati ini sungguh terluka apabila memikirkan kesalahan yang dilakukan. Sungguh tersayat, menyadari betapa lemahnya iman ini. Sungguh tak sanggup, membayangkan tuntutan hisab atas diriku nanti. Sudah banyak air mata jatuh menyesalinya. Sudah sering hati menangis meminta ampunanNya. Tapi berkali-kali aku kembali terjatuh dalam lubang kenistaan yang sama tanpa bisa kuhindari. Dan berkali-kali pun ku kembali bangkit darinya. Tak tahu kapan diri ini kan senantiasa berdiri tegak dan tak terjatuh lagi, hanya bisa ku perjuangkan dalam sebuah proses hidup yang teramat panjang.
29 Juni 2007, 08:56 pm
Kusadar akan segala kesalahan yang kulakukan. Kusadar akan semua kekhilafan antara sadar atau tidak. Tapi ku tak sanggup untuk menahan pikiran ini. Ku tak sanggup membelenggunya agar tak hilang kendali. Hatiku sering terkalahkan oleh kekuasaan akal. Nafsu kadang menjadi pemimpin yang kejam. Meski kutahu itu sebuah kesalahan, tapi aku tetap saja belum mampu melawannya. Diri ini membutuhkan sebuah gebrakan, entah dari dalam atau luar untuk membangun kekuatan sang keberanian dan tekad yang kuat. Gebrakan besar yang muncul menggetarkan hati agar selalu dalam keadaan sadar dan kuat.
4 Juli 2007, 09:08 pm
Ketika ketidaksukaan akan kondisi sekitar melingkupi diri ini, sejenak hati alpa terhadap tekad yang telah tertanam dalam. Ketika bisikan kecemasan datang serta mencekam kekhawatiran, hanya akal yang memainkan peran tanpa tujuan. Akar niat di dada tercabut begitu saja oleh hentakan dan tekanan dunia. Kenapa aku sulit membendung bayangan fana? Apa mungkin ku hanya pohon serabut yang lemah? Aku berharap bisa segera menjadi sang tunggang kuat yang tetap bertahan ditengah tiupan angin kencang.
6 Juli 2007, 09:14 am
Sedih? Benci? Kesal? Kecewa? Entah kata apa yang bisa menggambarkan perasaan yang kualami saat ini. Mengapa kondisi ini sering menyerang? Mengapa perasaan ini selalu melanda? Manusia memang gudang kekecewaan. Salah, diri ini apabila menggantung asa kepada sang manusia. Salah, hati ini apabila banyak berharap pada ego manusia. Sering ku tertipu oleh manisnya ucapan dan perilaku. Adakah manusia itsar, yang mendahulukan kepentingan saudaranya daripada dirinya sendiri? Akankah kutemukan sosok manusia itu? Atau mungkinkah diri ini bisa menjadi manusia tangguh yang mampu melawan ego pribadinya?
6 Juli 2007, 12:52 pm
Mendadak pikiran terbuka lebar. Seketika hati menjadi lapang. Sekejap jiwa berubah tenang. CahayaNya tiba menerangi jalan suram. Begitu mudahnya Dia membalikkan hati seseorang. Begitu gampang Dia mempengaruhi pemikiran manusia. Dari kecewa menjadi puas. Dari benci menjadi cinta. Dari marah menjadi sayang. Hati ini ibarat telapak tangan yang dengan mudah dibolak-balikkanNya.
7 Juli 2007, 08:42 pm
Pikiran ini menjadi kacau membayangkan ketidakberdayaan fisik yang terbatas. Hati ini galau memikirkan ketidakmampuan memberikan pertolongan. Jasad hanya bisa diam sementara yang lain bergerak. Akal buntu manakala yang lain sedang beraksi. Hati resah sedangkan lainnya berjuang dengan keras. Manusia seharusnya sadar bahwa ia adalah makhluk yang penuh keterbatasan. Manusia semestinya tahu Allah Yang Maha Sempurna. Manusia itu kecil, tapi perannyalah yang besar. Aku terus berharap detik yang terus berlalu tak terbuang sia-sia. Waktu yang bergulir kan berguna tanpa cela.
9 Juli 2007, 09:48 pm
Semoga ketenangan hati selalu meliputi hidupku di dunia. Diriku adalah apa yang ku pikirkan. Apabila kuberpikir tenang, maka hati menjadi damai. Apabila ku merasa cemas, maka jiwa dihiasi was-was. Ketenangan hati akan senantiasa ku perjuangkan dalam tarbiyah yang rumit. Kepuasan batin akan selalu kucoba gapai dengan terjun di jalan da’wah yang terjal. Tak ada hasil yang instan. Yang ada hanyalah proses yang panjang.
26 Juli 2007, 04:59 pm
Rasa sakitku tak tertahankan lagi. Kurasa hal ini telah melampaui batas kemampuan. Kukira fisik ini telah berada di ujung kekuatan. Tak pernah ku merasakan penderitaan seperti ini. Seakan-akan tak ada lagi daya upaya untuk dapat berjalan. Aku selalu memaksakan diri ini. Aku selalu bergerak tanpa henti. Aku tak pernah memikirkan diri sendiri. Aku mungkin tak peduli diri sendiri. Semangatku mengalahkan kemanjaanku pada diri sendiri. Aku tahu ku salah. Aku telah zhalim pada diriku. Sakit ini menyadarkanku. Teguran ini membangunkanku. Penyesalan memang selalu terlambat.
Komitmen dan Integritas
“Let the world changes you, then you can change the world.”
Sungguh demikian banyak orang yang bermimpi untuk mengubah dunia, sedangkan ia lupa untuk mengubah dirinya sendiri. Berharap negara ini akan adil sejahtera, tetapi lupa berkaca dan melihat, “Apakah dirinya sudah sampai bercucuran keringat dan air mata untuk menuju ke sana? Atau setidaknya membuat dirinya sendiri baik?”
Mungkin akan ada yang berkata, “Itu hanya mimpi dan harapan seorang pemimpi! Kalau hanya bermimpi, semua orang bisa melakukan. Yang dibutuhkan di sini bukan mimpi. Yang dibutuhkan di sini adalah aksi!!!”
Aksi? Heh, aksi yang seperti apa maksudnya? Haruskah selalu turun ke jalan, berteriak-teriak, berbasah peluh, dan bersakit badan?
Bukan. Bukan aksi yang dipandang sesempit itu. Lagi-lagi, sudah cukup banyak orang yang beraksi meneriaki kedzaliman pemerintah. Banyak orang yang mengkaji, mewacanakan apa yang seharusnya dilakukan. Sudah ada banyak usaha dari golongan manapun yang berharap negara ini menjadi lebih baik. Banyak. Sudah banyak.
Pertanyaannya, seberapa banyak orang yang komitmen dengan ucapannya? Masihkah tetap ada orang yang punya integritas, selaras antara ucapan dan tindakannya?
Maksudnya apa?
Huff… Sungguh banyak orang yang berpikir besar namun lupa bertindak mulai dari hal kecil. Tidak salah punya mimpi ingin mengubah dunia, mengubah negara, dan mengubah hal-hal lain yang diinginkan. Namun pernahkah melihat dari sisi terkecil kehidupan? Percuma punya mimpi besar, tapi realisasi NOL BESAR.
Kita, rakyat Indonesia bisa bergaung-gaung lantang di hadapan kedzaliman pemerintah. Namun, berapa persen dari jumlah orang tersebut yang setidaknya berkomitmen untuk selalu menepati janji dan menepati waktu?
Mahasiswa dan pelajar bisa menuntut pemerintah yang tidak becus dalam penanganan kasus korupsi. Berapa banyak dari yang menuntut itu tidak melakukan korupsi ketika ujian alias menyontek?
Ini bukan untuk mendiskreditkan pihak tertentu, tapi sebagai introspeksi bagaimana kita mau mengevaluasi orang kalau diri kita sendiri tidak pernah dievaluasi. Yang dipertanyakan di sini adalah komitmen dan integritas sebagai seorang manusia?
Bagi seorang muslim, komitmen dan integritas membutuhkan kapasitas yang lebih. Karena janji yang kita buat dan kata yang terlontar keluar bukan hanya komitmen pada manusia. Itu adalah janji kita kepada Allah dan itu berarti keimanan bermain di sana.
Aku hanya miris dengan orang yang tidak komitmen. Pun dalam hal kecil seperti menepati waktu. Janji itu bukan pada manusia, tetapi kepada Allah. Dan seharusnya jika kita tak mampu menepatinya, rasa malu itu hanya untuk Allah!
Think Globally Act Locally.
Dia Tahu Kelemahanku!
Wajar! Memang sudah sewajarnya setiap manusia ingin terlihat baik di hadapan orang lain. Ingin dinilai begini… begitu… dengan segala citra positifnya. Wajar. Karena itulah hakikat manusia yang mudah terpedaya pujian dunia. Maka, untuk tujuan itu, banyak orang berlomba-lomba membangun citra diri yang baik, menyembunyikan segala kelemahannya, dan kadang berusaha menjadi orang lain (yang mungkin merupakan figur/teladan baginya atau orang yang terlihat sempurna di matanya).
Tetapi, ternyata seberapun kerasnya usaha seseorang untuk menjadi baik atau bahkan menjadi lebih lebih lebih baik dari kondisinya saat ini, kelemahan itu akan selalu ada pada dirinya. Dan Dia tahu kelemahanku! Dia, Sang Maha Tahu sungguh tahu kelemahanku. Sungguh tahu kelemahan setiap orang.
Skenario-Nya selalu indah. Di titik lemah itulah Dia memberikan ujian itu. Ya! Dia yang sungguh benar-benar tahu kelemahan hati dan diri ini justru memberikan cobaan di titik lemah itu. Bukan untuk membuat seseorang semakin lemah, tetapi untuk melihat seberapa kuatkah ia untuk melawan kelemahannya.
Betapa banyak contoh nyata, seseorang yang lemah terhadap harta. Lemah karena tak ada harta sepeserpun atau lemah karena rasa lalai yang muncul akibat diperbudak oleh harta. Dan betapa banyak pula contoh nyata, seseorang yang lemah terhadap kekuasaan. Lemah karena tidak mampu mengemban kekuasaan atau lemah karena kekuasaan itu justru membutakan matanya.
Allah Maha Mengetahui hati hamba-Nya. Maha Mengetahui kelemahan hamba-Nya. Di situlah parameter kenaikan tingkat keimanan kita. Tidak perlu menyembunyikan kelemahan kita, tetapi tunjukkan seberapa kuat kita melawannya.
Kewajiban Mujahid
Refleksi, sudahkah kita benar-benar menjadi mujahid sejati?
****
Bagi seorang mujahid dakwah, ada kewajiban yang harus dia tunaikan dalam operasional dakwahnya. Kewajiban-kewajiban ini adalah dalam rangka membentuk pribadi mujahid untuk menjadi batu bata yang kuat bagi bangunan Islam. Untuk itu Hasan Al Banna merangkai kewajiban-kewajiban berikut ini bagi para mujahid dakwah.
Said Hawwa mengatakan bahwa kewajiban di sini bukan berarti wajib dalam pengertian syari, tetapi lebih luas dari itu. Kewajiban-kewajiban tersebut ada di antaranya yang fardhu, ada pula yang sunah. Oleh karenanya, kata wajib di sini berarti segala bentuk komitmen dakwah yang dituntut oleh gerakan Islam masa kini.
Berikut ini adalah rincian kewajiban-kewajiban tersebut.
1. Hendaklah engkau memiliki wirid harian dari Kitabullah tidak kurang dari satu juz. Usahakan untuk mengkhatamkan Al Quran dalam waktu tidak lebih dari sebulan dan tidak kurang dari tiga hari.
2. Hendaklah engkau membaca Al Quran dengan baik, memperhatikannya dengan seksama, dan renungkan artinya.
3. Hendaklah engkau mengkaji Sirah Nabi dan sejarah para generasi salaf sesuai dengan waktu yang tersedia. Buku yang dirasa mencukupi kebutuhan ini minimal adalah buku Hummatul Islam. Hendaklah engkau juga banyak membaca hadits Rasulullah saw, minimal hafal empat puluh hadits; ditekankan untuk menghafal Al Arba’in An Nawawiyah. Hendaklah engkau juga mengkaji risalah tentang pokok-pokok aqidah dan cabang-cabang fiqih.
4. Hendaklah engkau bersegara melakukan general check up secara berkala atau berobat, begitu penyakit terasa mengenaimu. Di samping itu perhatikanlah faktor-faktor penyebab kekuatan dan perlindungan tubuh, serta hindarilah faktor-faktor penyebab lemahnya kesehatan.
5. Hendaklah engkau menjauhi sikap berlebihan dalam mengkonsumsi kopi, teh, dan minuman perangsang semisalnya. Janganlah engkau meminumnya kecuali dalam keadaan darurat dan hendaklah engkau menghindarkan diri sama sekali dari rokok.
6. Hendaklah engkau perhatikan urusan kebersihan dalam segala hal menyangkut tempat tinggal, pakaian, makanan, badan, dan tempat kerja, karena agama ini dibangun di atas dasar kebersihan.
7. Hendaklah engkau jujur dalam berkata dan jangan sekali-kali berdusta.
8. Hendaklah engkau menepati janji, janganlah mengingkarinya, bagaimanapun kondisi yang engkau hadapi.
9. Hendaklah engkau menjadi seorang yang pemberani dan tahan uji. Keberanian yang paling utama adalah terus terang dalam mengatakan kebenaran, ketahanan menyimpan rahasia, berani mengakui kesalahan, adil terhadap diri sendiri, dan dapat menguasainya dalam keadaan marah sekalipun.
10. Hendaklah engkau senantiasa bersikap tenang dan terkesan serius. Namun janganlah keseriusan itu menghalangimu dari canda yang benar, senyum, dan tawa.
11. Hendaklah engkau memiliki rasa malu yang kuat, berperasaan yang sensitif, dan peka oleh kebaikan dan keburukan, yakni munculnya rasa bahagia untuk yang pertama dan rasa tersiksa untuk yang kedua. Hendaklah engkau juga bersikap rendah hati dengan tanpa menghinakan diri, tidak bersikap taqlid, dan tidak terlalu berlunak hati. Hendaklah engkau juga menuntut ‘dari orang lain’ yang lebih rendah dari martabatmu untuk mendapatkan martabatmu yang sesungguhnya.
12. Hendaklah engkau bersikap adil dan benar dalam memutuskan suatu perkara pada setiap situasi. Janganlah kemarahan melalaikanmu dari perbuatan kebaikan, janganlah mata keridhaan engkau pejamkan dari perilaku buruk, janganlah permusuhan membuatmu lupa dari pengakuan jasa baik, dan hendaklah engkau berkata benar meskipun itu merugikanmu atau merugikan orang yang paling dekat denganmu.
13. Hendaklah engkau menjadi pekerja keras dan terlatih dalam aktivitas sosial. Hendaklah engkau merasa bahagia jika dapat mempersembahkan bakti untuk orang lain, gemar membesuk orang sakit, membantu orang yang membutuhkan, menanggung orang yang lemah, meringankan beban orang yang tertimpa musibah meskipun hanya dengan kata-kata yang baik. Hendaklah engkau juga senantiasa bersegera untuk berbuat kebaikan.
14. Hendaklah engkau berhati kasih, dermawan, toleran, pemaaf, lemah lembut kepada manusia maupun binatang, berperilaku baik dalam berhubungan dengan semua orang, menjaga etika-etika sosial Islam, menyayangi yang kecil dan menghormati yang besar, memberi tempat kepada orang lain dalam majelis, tidak memata-matai, tidak menggunjing, tidak mengumpat, meminta izin jika masuk maupun keluar rumah, dan lain-lain.
15. Hendaklah engkau pandai membaca dan menulis, memperbanyak muthala’ah terhadap risalah Ikhwan, koran, majalah, dan tulisan lainnya. Hendaklah engkau bangun perpustakaan khusus, seberapapun ukurannya; konsentrasilah terhadap spesifikasi keilmuan dan keahlianmu jika engkau seorang spesialis; dan kuasailah persoalan Islam secara umum yang dengannya dapat membangun persepsi yang baik untuk menjadi referensi bagi pemahaman terhadap tuntutan fikrah.
16. Hendaklah engkau memiliki proyek usaha ekonomi; betapa pun engkau seorang kaya utamakanlah proyek yang mandiri, betapa pun kecilnya; dan cukupkanlah dengan apa yang ada pada dirimu, betapa pun tingginya kapasitas keilmuanmu.
17. Janganlah engkau terlalu berharap untuk menjadi pegawai negeri dan jadikanlah ia sebagai sesempit-sempitnya pintu rezeki, namun jangan pula engkau tolak jika diberi peluang untuk itu. Janganlah engkau melepaskannya kecuali jika ia benar-benar bertentangan dengan tugas-tugas dakwahmu.
18. Hendaklah engkau perhatikan penunaian tugas-tugasmu (bagaimana kecermatan dan kuantitasnya), janganlah menipu, dan tepatilah kesepakatan.
19. Hendaklah engkau penuhi hakmu dengan baik, penuhi hak-hak orang lain dengan sempurna tanpa dikurangi dan dilebihkan, dan janganlah menunda-nunda pekerjaan.
20. Hendaklah engkau menjauhkan diri dari judi dengan segala macamnya, apapun maksud di baliknya. Hendaklah engkau juga menjauhi mata pencaharian yang haram, betapapun keuntungan besar yang ada di baliknya.
21. Hendaklah engkau menjauhkan diri dari riba dalam setiap aktivitasmu dan sucikanlah ia sama sekali dari riba.
22. Hendaklah engkau memelihara kekayaan umat Islam secara umum dengan mendorong berkembangnya pabrik-pabrik dan proyek-proyek ekonomi Islam. Engkau pun hendaklah menjaga setiap keping mata uang agar tidak jatuh
ke tangan orang non-Islam dalam keadaan bagaimanapun. Janganlah makan dan berpakaian kecuali produk negeri Islammu sendiri.
23. Hendaklah engkau memiliki kontribusi finansial dalam dakwah, engkau tunaikan kewajiban zakatmu, dan jadikan sebagian dari hartamu itu untuk orang yang meminta dan orang yang kekurangan, betapapun kecil penghasilanmu.
24. Hendaklah engkau menyimpan sebagian dari penghasilanmu untuk persediaan masa-masa sulit, betapapun sedikit, dan janganlah sekali-kali menyusahkan dirimu untuk mengejar kesempurnaan.
25. Hendaklah engkau bekerja semampu yang engkau lakukan untuk menghidupkan tradisi Islam dan mematikan tradisi asing dalam setiap aspek kehidupanmu. Misalnya ucapan salam, bahasa, sejarah, pakaian, perabot rumah tangga, cara kerja dan istirahat, cara makan dan minum, cara datang dan pergi, serta gaya melampiaskan rasa suka dan duka. Hendaklah engkau menjaga sunah dalam setiap aktivitas tersebut.
26. Hendaklah engkau memboikot peradilan setempat atau seluruh peradilan yang tidak Islami, demikian juga gelanggang-gelanggang, penerbitan-penerbitan, organisasi-organisasi, sekolah-sekolah, dan segenap institusi yang tidak mendukung fikrahmu secara total.
27. Hendaklah engkau senantiasa merasakan diawasi oleh Allah, mengingat akhirat dan bersiap-siap untuk menjemputnya, mengambil jalan pintas untuk menuju ridha Allah dengan tekad yang kuat, serta mendekatkan diri kepada-Nya dengan ibadah sunah, seperti shalat malam, puasa tiga hari minimal setiap bulan, memperbanyak dzikir (hati dan lisan), dan berusaha mengamalkan doa yang diajarkan pada setiap kesempatan.
28. Hendaklah engkau bersuci dengan baik dan usahakan agar senantiasa dalam keadaan berwudhu (suci) di sebagian besar waktumu.
29. Hendaklah engkau melakukan shalat pada saatnya, di manapun ia berada, dan seketika itu juga.
30. Hendaklah engkau berpuasa Ramadhan dan berhaji dengan baik, jika engkau mampu melakukannya. Kerjakan sekarang juga jika engkau telah mampu.
31. Hendaklah engkau senantiasa menyertai dirimu dengan niat jihad dan cinta mati syahid. Bersiaplah untuk itu kapan saja kesempatan untuk itu tiba.
32. Hendaklah engkau senantiasa memperbaharui taubat dan istighfarmu. Berhati-hatilah terhadap dosa kecil, apalagi dosa besar. Sediakanlah untuk dirimu beberapa saat sebelum tidur untuk mengintrospeksi diri terhadap apa-apa yang telah engkau lakukan; yang baik maupun yang buruk. Perhatikan waktumu, karena waktu itu adalah kehidupan itu sendiri. Janganlah engkau pergunakan ia sedikit pun tanpa guna, dan janganlah engkau ceroboh terhadap hal-hal yang syubhat agar tidak jatuh ke dalam kubangan yang haram.
33. Hendaklah engkau berjuang meningkatkan kemampuanmu dengan sungguh-sungguh agar engkau dapat menerima tongkat kepemimpinan. Hendaklah engkau menundukkan pandanganmu, menekan emosimu, dan memotong habis selera-selera rendah dari jiwamu. Bawalah ia hanya untuk menggapai yang halal dan baik, serta hijabilah ia dari yang haram dalam keadaan bagaimanapun.
34. Hendaklah engkau jauhi khamr dan seluruh makanan atau minuman yang memabukkan sejauh-jauhnya.
35. Hendaklah engkau menjauh dari pergaulan dengan orang jahat dan persahabatan dengan orang yang rusak, serta jauhilah tempat-tempat maksiat.
36. Hendaklah engkau perangi tempat-tempat iseng, jangan sekali-kali mendekatinya, serta jauhilah gaya hidup mewah dan bersantai-santai.
37. Hendaklah engkau mengetahui anggota katibahmu satu persatu dengan pengetahuan yang lengkap, dan kenalkanlah dirimu kepada mereka dengan selengkap-lengkapnya. Tunaikanlah hak-hak ukhuwah mereka dengan seutuhnya; hak kasih sayang, penghargaan, pertolongan, dan itsar. Hendaklah engkau senantiasa hadir di majelis mereka, tidak absen kecuali karena udzur darurat, dan pegang teguhlah sikap itsar dalam pergaulanmu dengan mereka.
38. Hendaklah engkau hindari hubungan dengan organisasi atau jamaah apapun sekiranya hubungan itu tidak membawa maslahat bagi fikrahmu, terutama jika diperintahkan untuk itu.
39. Hendaklah engkau menyebarkan dakwahmu di manapun dan memberi informasi kepada pemimpin tentang segala kondisi yang melingkupimu. Janganlah engkau berbuat sesuatu yang berdampak strategis kecuali dengan seizinnya.
40. Hendaklah engkau senantiasa menjalin hubungan, baik secara ruhani maupun ‘amali, dengan Jamaah dan menempatkan dirimu sebagai ‘tentara yang berada di tangsi yang tengah menanti instruksi komandan’.
Referensi : “Membina Angkatan Mujahid” – Sa’id Hawwa